Sabtu, 29 Oktober 2011

Sekolah Intensif Tes

Satu sesi belajar mengajar dibagi tiga:

1. Waktu perkenalan
2. Waktu tes
3. Waktu fokus

Waktu perkenalan 45 menit, guru menjelaskan materi pelajaran
Waktu tes 15 menit, guru memberi tes atas materi tersebut
Waktu fokus 30 menit,
para siswa yang nilainya 85% ke bawah tinggal di kelas untuk belajar lagi
para siswa yang nilainya 85% ke atas bebas memutuskan untuk tetap ikut, atau keluar main atau ke perpustakaan atau ke lab komputer.

1 komentar:

  1. Sekolah mau berterimakasih,
    Menurut saya di masa depan, robot-robot dapat melakukan banyak hal teknis yang dulu dilakukan oleh orang. Bahkan perhitungan kompleks pun bisa dilakukan oleh black box / komputer yang terus mendapat input dari pasar.
    Menurut saya di masa depan, sekolah-sekolah harus memfokuskan pelajaran bukan hanya teknis mengenai bagaimana dunia berlanjut. Tetapi juga siapa saja sumber solusi yang sedang kita gunakan. Berjam-jam bisa dialokasikan untuk mengenal para sumber solusi dan bagaimana cara berterimakasih kepada mereka.
    Masalah teknis akan menjadi mudah, tapi kemiskinan di dunia bukanlah kemiskinan akan waktu, uang, dan energi, tapi akan solusi-solusi yang saling menguntungkan. Apakah para siswa akan menjadi orang-orang yang digemari sumber-sumber solusi?
    Dan dalam komputer saja ada begitu banyak pihak yang berpartisipasi, dalam film kita lihat sendiri betapa panjangnya daftar partisipatornya, dan apakah kita mau menganggap solusi-solusi lain seperti sepatu yang kita pakai jauh lebih simple? tentu saja tidak.
    Tuhan Yesus sudah memberitahu bahwa uang itu tidak jujur, memang mungkin anda yang memiliki uang telah membantu orang, tapi apakah banyak uang tersebut menunjukkan seluruh nilai bantuan yang sudah anda berikan? Dan apakah seluruh bantuan tersebut hanya berasal dari anda saja?

    Tuhan Yesus juga bilang jangan mengumpulkan harta bagimu di dunia ini. Jadi harta yang berlebihan yang kita dapatkan akan sangat berguna kalau dialirkan kepada para sumber solusi yang sudah berpartisipasi tersebut, walaupun mungkin seberapa banyak uang di dunia ini tidak dapat mewakili kepantasan setiap dari mereka untuk ditolong kembali oleh anda dan konsumen-konsumen lainnya.

    (mengumpulkan harta tidak dilarang Tuhan, asal bukan bagi diri kita di dunia ini.
    Memiliki harta untuk diri kita di dunia ini tidak dilarang Tuhan, asal bukan menjadi tujuan hidup kita sampai harta itu kita kumpulkan tanpa kita pergunakan untuk membantu orang lain. Karena "dimana hartamu berada di situ juga hatimu berada").

    Jadi kurikulum yang didedikasikan untuk kemauan dan kemampuan untuk berterimakasih, is the way to go.

    BalasHapus