Rabu, 17 Agustus 2011

Reputable Market for Indonesia

Indonesia tidak dipungkiri lagi sangat diminati oleh investor asing. Tapi juga harus diakui sejarah dividen yang berhasil kita bayarkan dibandingkan dengan besarnya investasi yang akan diinjeksikan belum represent / belum mewakili.
Hype akan investasi ke Indonesia menurut saya lebih didorong oleh meledaknya pertumbuhan China Korea, dan krisis ekonomi negara-negara barat.

Sekarang kita berada dalam tes, tes yang besar, apakah Indonesia benar-benar mampu untuk tidak mengecewakan para investor. Apakah Indonesia mampu berkontribusi untuk menolong Investor-investor dalam kehidupan mereka, apakah di Indonesia ada/bisa mendatangkan solusi dan elemen-elemen solusi atas permasalahan-permasalahan para investor? Ini belum tau.

Kalau sampai para spekulan menggunakan momentum ini untuk jauh meningkatkan harga saham di pasar secondary Indonesia, dan banyak-banyak Investor yang tertipu. Walaupun Indonesia mampu membayar dividen yang decent, atau yang wajar, para investor tetap akan kecewa karena ekspektasi awal mereka yang sudah digoreng. Hal ini menurut saya dapat merusak kepercayaan dan kemudian beresiko membuat kita menghadapi masalah keterpurukan dan isolasi hubungan antar pelaku bisnis.

Kita harus bisa merating para pelaku-pelaku transaksi di pasar. Mereka yang menjual saham diharapkan agar dapat mempertaruhkan reputasi mereka, bahwa mereka membeli karena mereka secara intelektual menganalisa bahwa benar saham-saham tersebut pantas dibeli. Mentalitas win/loose bukanlah mentalitas pasar, tapi mentalitas perang, mentalitas itu mungkin telah membawa krisis ekonomi berkepanjangan kepada dunia. Para programmer Indonesia mungkin dapat membuat program yang mengatribusikan rating kepada para pelaku pasar, sehingga transaksi dengan para pelaku-pelaku pasar yang beresiko tinggi dapat dihindari.

Kalau para pelaku pasar dapat membuat pernyataan setiap kali membeli saham, bahwa mereka benar-benar membeli dengan anggapan bahwa dividen yang akan didapatkan itu sepadan dengan harga belinya... maka setiap kali ada koreksi pasar, badan rating dapat menilai, siapa-siapa saja yang terlibat dalam peningkatan harga saham tersebut dan mengatribusikan resiko/rating kepada mereka. Mereka tidak harus sengaja, tapi kenyataannya secara obyektif mereka itu beresiko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar